Merajut Masa Depan dari Balik Seragam Cokelat: Saat Kwarda Jabar Menempa 81 Calon Pemimpin Bangsa


“Pemimpin itu harus disiapkan. Kami mempersiapkan generasi muda Pramuka Penegak dan Pandega agar ke depan menjadi pemimpin-pemimpin yang baik.”

Bandung -- Hari itu, ruangan tak sekadar diisi oleh pemuda berseragam cokelat, melainkan disulap menjadi sebuah "laboratorium kepemimpinan". Sebanyak 81 pemuda-pemudi terpilih dari 27 Kwartir Cabang (Kwarcab) se-Jawa Barat berkumpul dalam sebuah agenda krusial: Kursus Pengelola Dewan Kerja Kwarda Jawa Barat Tahun 2026.

Mereka bukanlah pemuda biasa. Para peserta yang merupakan perwakilan Dewan Kerja Cabang dan kader Dewan Kerja Ranting ini adalah wajah masa depan. Berada pada rentang usia emas, yakni 16 hingga 25 tahun, mereka tengah menjalani transformasi. Tujuannya sangat jelas: mengubah potensi mentah generasi muda menjadi ketajaman manajerial, kepemimpinan, dan profesionalisme tingkat tinggi untuk menghadapi era yang serba tak pasti.

Bagi Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Kelembagaan Kwarda Gerakan Pramuka Jawa Barat, Baim Setiawan, langkah ini adalah bentuk investasi yang paling berharga. Ia sadar betul bahwa membiarkan talenta muda tumbuh tanpa arah adalah sebuah kerugian. Gerakan Pramuka, di bawah komandonya, dirancang bukan sekadar tempat bernyanyi atau berkemah, melainkan rahim bagi lahirnya tokoh-tokoh penggerak lintas sektor.

“Mau menjadi politisi, birokrat, atau pengusaha, kader Pramuka harus memberikan contoh terbaik. Harus berkualitas, jangan menjadi percobaan,” tegas Baim di tengah-tengah arahannya.

Pernyataan di atas menyentuh akar persoalan kepemimpinan masa kini. Baim memandang bahwa kualitas seorang pemimpin tidak jatuh dari langit, pun tidak bisa sekadar mengandalkan insting saat seseorang sudah terlanjur menduduki jabatan publik atau profesional. Pengaderan harus dilakukan by design—terencana, terarah, dan dieksekusi dengan matang sejak dini.

"Harus betul-betul disiapkan, diciptakan, dan didesain agar kader Pramuka menjadi profesional dan memberikan yang terbaik," tambahnya, merinci filosofi di balik program pembinaan ini. Menurutnya, pengalaman memang penting, namun bekal ilmu dan karakter yang ditempa sebelum terjun ke gelanggang sesungguhnya jauh lebih esensial.

Lewat kursus komprehensif ini, Kwarda Jabar membidik sasaran yang jauh melampaui batas-batas organisasi. Mereka menargetkan lahirnya kader bangsa yang memadukan profesionalitas dan integritas. Kehadiran utusan dari 27 kabupaten dan kota menjadi bukti bahwa denyut nadi kaderisasi berdetak secara merata di seluruh pelosok Tanah Pasundan.

“Dengan keterlibatan 27 Kwarcab, kegiatan ini juga diharapkan memperkuat proses pengaderan Pramuka di seluruh Jawa Barat, sehingga regenerasi kepemimpinan dapat berjalan secara berkelanjutan,” pungkasnya menutup harapan.

Kini, tongkat estafet itu sedang dipoles. Dari kawah candradimuka Kwarda Jabar, 81 kader muda ini bersiap menyongsong masa depan—bukan sebagai penonton yang riuh di tribun, melainkan sebagai nakhoda tangguh yang siap mengambil alih kemudi.

Previous Post Next Post